Lelucon Tentang Kesadaran
Wahai Ilmuan, Hidup Ini Seperti Mimpi, Anggap Saja Seperti Permainan
Hari ini aku baca berita, ada tuyul yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol, dan aku hanya tertawa di dalam hati. Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu, ada berita manusia kawat, bahkan sampai masuk tv. Masih kuingat juga berita di televisi, penyembuhan alternatif dengan cara merebus orang yang sakit dalam air mendidih. Aku bukanlah orang yang mudah takjub dengan hal-hal seperti itu, meski kadang penasaran. Keinginan untuk meneliti hal-hal seperti itu tentu ada, tetapi tidak cukup mempunyai kesempatan untuk hal-hal yang paling nantinya menjadi bahan tertawaan.
Hidup ini bagaikan mimpi, kejadian begitu aneh, kemudian kita terbangun, tetapi kemudian banyak hal menjadi lebih aneh, dan alangkah kagetnya karena ternyata yang tadi ternyata belum benar-benar bangun dari mimpi, dan akhirnya, setelah bangun berkali-kali, kita tidak pernah yakin apakah kali ini kita sudah benar-benar terbangun dari mimpi.
Hidup ini seperti permainan, wahai ilmuan, maka teruslah bermain dengan eksperimen ilmiahmu, selagi masih menyenangkan. Teruslah bermain, meski lawan-lawan mainmu menjadi tahan api, menjadi tidak terdeteksi, atau bahkan menjadikan teknologi yang kamu hasilkan kadang menampilkan banyak hal yang patut ditertawakan. Ada tuyul gambar di dalam botol, atau gambar genderuwo tiba-tiba menjadi latar belakang yang kelihatannya lebih narsis daripada obyek yg seharusnya. Atau, bahkan ada yang lebih mwnggelikan: pisau, gunting, paku, dan silet di dalam jaringan otak yang masih dipakai untuk berpikir, tentu saja ini bukan tempat yang tepat untuk barang-barang itu.
Wahai ilmuan, jangan pernah risau ketika anda harus diam ketika menjumpai hal aneh semacam ini. Kita bukannya kalah, tetapi karena memang diam adalah strategi terbaik memenangkan permainan. Sekali lagi perlu diingat, ini hanyalah permainan. Pura-puralah agar terlihat selalu gembira, kalau perlu pura-puralah ikut tertawa terhadap semua kekonyolan ini, toh kejadian yang seperti ini secara statistik bisa diabaikan bukan?
Begitulah pesan saya, teruslah bermain dengan semua eksperimen laboratorium kamu, selagi sebagian besar hasil pengukuran menunjukkan data yang bermakna untuk suatu kesimpulan, teori baru, atau apapun yang bisa menyenangkan dan membuat permainan ini lebih hidup. Teruslah bermain, catat dengan rapi semua hasil permainan, teori, penjelasan, rancangan suatu penemuan, atau apapun yang kamu hasilkan. Ingat sekali lagi, catat yang rapi, pegang erat-erat, meski tak yakin apakah catatan itu masih bisa kita baca dan kita pahami ketika bangun nanti.
Kapitalisme
Apakah kapitaslime itu? Ia adalah aliran. Dia percaya bahwa duit bisa menghasilkan duit, ini bukan seperti bunga tabungan bank yang tentu saja tidak cukup tinggi untuk menutup laju inflasi.
Kapitalisme mungkin dimulai dari bagaimana dia mengelola duit yang dia punya agar di akhir bulan nanti masih ada duit yang tersisa, untuk ditabung. Mungkin dimulai juga ketika dia perpikir bagaimana caranya agar duit yang dihasilkan hari ini bisa digunakan sampai besok pagi, sehingga besok hari dia bisa beli sarapan untuk kerja cari duit lagi. Ya, untuk cari duit butuh makan, dan untuk makan butuh duit. Intinya duit di sini jadi alat untuk menghasilkan duit yang kalo bisa lebih banyak lagi jumlahnya. Begitulah, setelah dia bisa memastikan besok hari dia bisa makan, dan bisa cari duit lagi, makan selanjutnya adalah bagaimana agar di akhir bulan dia bisa menyisihkan lebih banyak duit lagi untuk ditabung.
Pada dasarnya semua orang adalah pemalas. Setelah tabungan dia mulai menumpuk, dia mulai enggan mengerjakan beberapa pekerjaan yang dulu dia lakukan sendiri, seperti mencuci baju misalnya. Lalu mulailah muncul jenis profesi baru: pembantu rumah tangga. Bahkan kemudian juga muncul bisnis baru: laundry kiloan yang cabangnya tersebar di seluruh penjuru kota ini. Di sini kapitalisme mulai menebarkan pesonanya, menolong orang biar dia dapat kerjaan, meski hanya menjadi pencuci baju, yang penting halal.
Karena kini tabungannya semakin menggunung, ini juga ditunjang oleh produktifitasnya yang meningkat pesat karena dia tidak lagi perlu mencuci bajunya sendiri, lalu orang menjadi semakin malas. Kemudian sedikit-demi sedikit dia mulai enggan mengerjakan pekerjaan yang selama ini memberikan sumber dana untuk membayar gaji pembantu atau ongkos laundry. Lambat laun kehidupan mulai berubah, yang tadinya sendirian menagani pasiennya kini mulai ditemani beberapa asisten yang masih muda dan cantik-cantik, yang tadinya berkutat sendirian di depan komputer kini lebih sering telepon koleganya untuk bagi-bagi proyek, bahkan ada yang sampe membuka kantor baru dengan beberapa asisten junior yang bisa dibayar murah. Yang dulunya bekerja di restoran kini tiba-tiba mengundurkan diri karena membuka restorannya sendiri. Yang dulunya ngontrak rumah sekarang kerjaannya cuma bolak-balik koran pagi sambil minum teh anget sama makan pisang goreng di teras kos-kosan miliknya yang berjumlah 40 kamar. Bahkan mbok jamu yang dulunya jualan keliling kampung kini lebih banyak bolak-balik memantau bisnis waralaba jamu gendongnya. Semua orang, dari zaman dahulu hingga sekarang, disadari atau tidak, mempunyai obsesi menjadi kapitalis! Bahkan mbok jamu keliling sekalipun! Edian!!! Bagaimana menurut Anda?
Bahasa Kucing
Beberapa hari yang lalu saya makan siang di kantin MIPA UGM. Nah di situ ada yang menarik, karena saya melihat seekor kucing kecil mengamati kami semua yang lagi pada makan. Sesekali juga mendekati beberapa meja makan, mungkin berharap ada seseorang yang mau memberi makanan buat dia. Karena saya penyuka kucing, maka saya punya ide untuk memanggil kucing kecil tadi dengan panggilan pasarannya: pus… pus….. puss… pusssss!!!!

Ternyata respon yang saya dapat tidak seperti yang saya harapkan. Aku dicuekin…. Kasihan deh loe!! Begitulah perkiraanku komentar teman saya dalam hati yang tau kalo aku dicuekin sama kucing kecil tadi. Untuk membuang malu karena saya merasa dicuekin, saya katakan kepada teman saya kalo aku tau rahasia bahasa kucing, aku pasti bisa bikin kucing itu malu di hadapan kalian!!!
Lalu mulailah aku memanggil kucing itu, berpura-pura menjadi mamanya kucing itu: “Oh kucing kecilku sayang… di mana kau…. dimanaaaa…. ayo ke sini dong….. ibumu di sini…. di mana kau kucing kecilku sayang!!!!!” Begitulah kira kira yang aku ucapkan berulang-ulang…. tentu saja dengan bahasa kucing.
Sebagai orang yang pernah memelihara kucing bertahun-tahun tentu saja aku paham beberapa “kosa-kata” yang dipakai induk kucing ketika pulang dan memanggil anak-anaknya yang sedang bersembunyi entah di mana. Akhirnya, kucing kecil itu pun celingukan begitu mendengar suara panggilanku, mendekat ke mejaku, tetep celingukan mencari-cari mamanya, persis seperti anak yang kehilangan orang tuanya, akhirnya aku berhenti memanggilnya dan kucing kecil itu pun tersipu malu karena tidak bisa menemukan ibunya di meja kami. Akhirnya dia meninggalkan meja makan kami, sambil tetap celingukan tentunya. Kasian deh lu kucing, salahnya sendiri aku panggil pus pus tadi gak cuek aja!!!
Saya percaya bahwa hewan-hewan juga memiliki bahasa, meski dalam bentuk yang sederhana. Yang aku praktekkan tadi sebenarnya hanya sebagian dari bahasa kucing yg bisa kupahami dan kuucapkan. Ada beberapa macam suara kucing yang bisa kupahami ketika dia minta dibukakan pintu atau ketika dia minta makan, atau ketika dia marah. Bagiku semua isyarat suara yang digunakan oleh kucing lebih mirip sebagai ungkapan perasaan, daripada sebagai sebuah kata-kata yang mempunyai arti yang tegas. Itulah mengapa saya lebih bisa berkomunikasi dengan kucing sewaktu masih kecil. Sama kasusnya seperti keponakanku ketika umur 4 tahun lebih bisa memahami adiknya yang umur sekitar 1.5 tahun ketika si adik berusaha bicara dengan bunyi-bunyian yang bagku samasekali gak jelas.
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa bahasa kucing jogja ternyata sama dengan bahasa kucing kebumen. Saya penasaran apakah kucing di luar jawa atau di eropa juga mempunyai bahasa yang sama. Mungkin nanti ketika saya jalan-jalan ke luar jawa atau ke suatu negeri yang jauh, saya perlu mencoba memanggil kucing-kucing itu seperti kucing-kucing jogja memanggil-manggil anaknya untuk datang. Kira-kira kucing kucing luar jawa paham gak ya sama bahasa kucingku? Bagaimana ya kalo kucing Sunda?
Memanfaatkan Kesempatan Dalam Kesempitan
Saya tidak tahu pasti apakah hal yang saya lakukan ini baik atau buruk, tetapi saya merasa bahwa saya tidak merugikan siapapun. Cerita ini terjadi seputar bencana gempa bumi yang melanda Jogja pada tahun 2006.

Saat itu saya harus segera mengirim email untuk pemesana PCB (printed circuit board), melakukan transaksi pembayaran, dan juga menulis laporan kerja di komputer. Tiba-tiba saja semua jaringan listrik mati, koneksi internet down, dan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk semua pekerjaanku yang masih menumpuk itu.
Lalu tiba-tiba muncul pencerahan: Lho bukannya dengan lumpuhnya semua fasilitas publik berarti saya bisa bersantai sejenak, tidak perlu pusing memikirkan proyek yang sudah pasti melanggar dateline. Ya, untungnya ada gempa. Gempa membawa keberuntungan? Khusus untuk kasusku memang iya, karena masalah saya menjadi sederhana: cukup katakan terjadi bencana, force majeure, dan klien pasti tidak bisa menuntut apa-apa. Padahal, sebenarnya tanpa terjadi bencanapun, saya tidak akan bisa mengirimkan prototype dari desain yang dia pesan secara tepat waktu. Begitulah, ketika jaringan listrik kembali hidup, dan koneksi internet kembali normal, sesegera mungkin saya kirim email kepada klien saya yang tinggal di UK kalau di kotaku Jogja terjadi bencana, semua fasilitas publik mati, sehingga pengiriman prototype dari desain hardware yang dia pesan akan mengalami keterlambatan selama seminggu. Pernahkah Anda mendapati pengalaman sejenis?


