RSS

Category Archives: Filsafat

Lelucon Tentang Kesadaran

Ide bahwa gunung-gunung, samudra, bintang di langit, dan semua benda-benda di alam semesta ini mempunyai kesadaran adalah sangat lucu, sama lucunya seperti lelucon yang diobrolkan oleh dua ekor bakteri yang sedang berpetualan mengarungi ganasnya lautan sel darah merah, melewati bukit-bukit jantung yang bergoyang dengan irama yang sangat mempesona, juga lekuk-lekuk lembah dan bukit otak yang sangat indah. Mereka berdua mentertawakan cerita dari para orang tua mereka bahwa lembah dan bukit yang berlipat-lipat itu merupakan tempat bersemayamnya sumber kebijaksanaan dan kecerdasan alam semesta yang mereka tinggali.
 
2 Comments

Posted by on May 28, 2010 in Filsafat

 

Wahai Ilmuan, Hidup Ini Seperti Mimpi, Anggap Saja Seperti Permainan

Hari ini aku baca berita, ada tuyul yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol, dan aku hanya tertawa di dalam hati. Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu, ada berita manusia kawat, bahkan sampai masuk tv. Masih kuingat juga berita di televisi, penyembuhan alternatif dengan cara merebus orang yang sakit dalam air mendidih. Aku bukanlah orang yang mudah takjub dengan hal-hal seperti itu, meski kadang penasaran. Keinginan untuk meneliti hal-hal seperti itu tentu ada, tetapi tidak cukup mempunyai kesempatan untuk hal-hal yang paling nantinya menjadi bahan tertawaan.

Hidup ini bagaikan mimpi, kejadian begitu aneh, kemudian kita terbangun, tetapi kemudian banyak hal menjadi lebih aneh, dan alangkah kagetnya karena ternyata yang tadi ternyata belum benar-benar bangun dari mimpi, dan akhirnya, setelah bangun berkali-kali, kita tidak pernah yakin apakah kali ini kita sudah benar-benar terbangun dari mimpi.

Hidup ini seperti permainan, wahai ilmuan, maka teruslah bermain dengan eksperimen ilmiahmu, selagi masih menyenangkan. Teruslah bermain, meski lawan-lawan mainmu menjadi tahan api, menjadi tidak terdeteksi, atau bahkan menjadikan teknologi yang kamu hasilkan kadang menampilkan banyak hal yang patut ditertawakan. Ada tuyul gambar di dalam botol, atau gambar genderuwo tiba-tiba menjadi latar belakang yang kelihatannya lebih narsis daripada obyek yg seharusnya. Atau, bahkan ada yang lebih mwnggelikan: pisau, gunting, paku, dan silet di dalam jaringan otak yang masih dipakai untuk berpikir, tentu saja ini bukan tempat yang tepat untuk barang-barang itu.

Wahai ilmuan, jangan pernah risau ketika anda harus diam ketika menjumpai hal aneh semacam ini. Kita bukannya kalah, tetapi karena memang diam adalah strategi terbaik memenangkan permainan. Sekali lagi perlu diingat, ini hanyalah permainan. Pura-puralah agar terlihat selalu gembira, kalau perlu pura-puralah ikut tertawa terhadap semua kekonyolan ini, toh kejadian yang seperti ini secara statistik bisa diabaikan bukan?

Begitulah pesan saya, teruslah bermain dengan semua eksperimen laboratorium kamu, selagi sebagian besar hasil pengukuran menunjukkan data yang bermakna untuk suatu kesimpulan, teori baru, atau apapun yang bisa menyenangkan dan membuat permainan ini lebih hidup. Teruslah bermain, catat dengan rapi semua hasil permainan, teori, penjelasan, rancangan suatu penemuan, atau apapun yang kamu hasilkan. Ingat sekali lagi, catat yang rapi, pegang erat-erat, meski tak yakin apakah catatan itu masih bisa kita baca dan kita pahami ketika bangun nanti.

 
1 Comment

Posted by on May 21, 2010 in Filsafat

 

Kapitalisme

Apakah kapitaslime itu? Ia adalah aliran. Dia percaya bahwa duit bisa menghasilkan duit, ini bukan seperti bunga tabungan bank yang tentu saja tidak cukup tinggi untuk menutup laju inflasi.

Kapitalisme mungkin dimulai dari bagaimana dia mengelola duit yang dia punya agar di akhir bulan nanti masih ada duit yang tersisa, untuk ditabung. Mungkin dimulai juga ketika dia perpikir bagaimana caranya agar duit yang dihasilkan hari ini bisa digunakan sampai besok pagi,  sehingga besok hari dia bisa beli sarapan untuk kerja cari duit lagi. Ya, untuk cari duit butuh makan, dan untuk makan butuh duit. Intinya duit di sini jadi alat untuk menghasilkan duit yang kalo bisa lebih banyak lagi jumlahnya. Begitulah, setelah dia bisa memastikan besok hari dia bisa makan, dan bisa cari duit lagi, makan selanjutnya adalah bagaimana agar di akhir bulan dia bisa menyisihkan lebih banyak duit lagi untuk ditabung.

Pada dasarnya semua orang adalah pemalas. Setelah tabungan dia mulai menumpuk, dia mulai enggan mengerjakan beberapa pekerjaan yang dulu dia lakukan sendiri, seperti mencuci baju misalnya. Lalu mulailah muncul jenis profesi baru: pembantu rumah tangga. Bahkan kemudian juga muncul bisnis baru: laundry kiloan yang cabangnya tersebar di seluruh penjuru kota ini. Di sini kapitalisme mulai menebarkan pesonanya, menolong orang biar dia dapat kerjaan, meski hanya menjadi pencuci baju, yang penting halal.

Karena kini tabungannya semakin menggunung, ini juga ditunjang oleh produktifitasnya yang meningkat pesat karena dia tidak lagi perlu mencuci bajunya sendiri, lalu orang menjadi semakin malas. Kemudian sedikit-demi sedikit dia mulai enggan mengerjakan pekerjaan yang selama ini memberikan sumber dana untuk membayar gaji pembantu atau ongkos laundry. Lambat laun kehidupan mulai berubah, yang tadinya sendirian menagani pasiennya kini mulai ditemani beberapa asisten yang masih muda dan cantik-cantik, yang tadinya berkutat sendirian di depan komputer kini lebih sering telepon koleganya untuk bagi-bagi proyek, bahkan ada yang sampe membuka kantor baru dengan beberapa asisten junior yang bisa dibayar murah. Yang dulunya bekerja di restoran kini tiba-tiba mengundurkan diri karena membuka restorannya sendiri. Yang dulunya ngontrak rumah sekarang kerjaannya cuma bolak-balik koran pagi sambil minum teh anget sama makan pisang goreng di teras kos-kosan miliknya yang berjumlah 40 kamar. Bahkan mbok jamu yang dulunya jualan keliling kampung kini lebih banyak bolak-balik memantau bisnis waralaba jamu gendongnya. Semua orang,  dari zaman dahulu hingga sekarang, disadari atau tidak, mempunyai obsesi menjadi kapitalis! Bahkan mbok jamu keliling sekalipun! Edian!!! Bagaimana menurut Anda?

 
1 Comment

Posted by on November 24, 2009 in Dunia Kerja, Filsafat

 

Tags:

Prinsip Dasar Perancangan: Sebuah Pengantar Filsafat Keteknikan dalam Dunia Kapitalis

dollar

Sebagai pengantar, saya kasih tahu dulu kalo inti dari  filsafat teknik, filosofi dari jalan hidup yang diambil oleh para teknisi, atau  engineer dalam istilah kerennya (biar tidak dikatakan lulusan STM), adalah bagaimana memanfaatkan segala akal budi yang kita miliki untuk menciptakan sesuatu, memperlakukan segala sesuatu, atau merekayasa (cara jawane ngakali) segala sesuatu untuk membuat hidup orang lebih mudah.  Dengan hidup yang lebih mudah mestinya manusia bisa lebih bahagia karena segala tujuan hidupnya bisa dia raih dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih optimal.

Nah cukup itu saja pengantarnya, selanjutnya mari kita masuk pada materi diskusi kita kali ini. Ketika kuliah perancangan instrumentasi medik, saya ingat betul wejangan dari guru besar Sunarno (kok  kedengarannya istilah jadul guru besar kayaknya lebih keren dari profesor ya),  tentang prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dalam merancang sesuatu, mungkin ini tidak ada di dalam textbook manapun, tapi ini adalah ilmu yang langsung diturunkan  dari sang guru kepada muridnya. Salah satu dari prinsip tersebut adalah:

Jangan merancang apa yang kamu bisa, tapi rancanglah apa yang bisa kamu jual.

Sepintas, pernyataan di atas tadi bernuansa materialis, kapitalis, yang intinya adalah ujung-ujungnya duit.  Namun, jika kita kaji lebih dalam, sebenarnya proposisi tersebut adalah pernyataan yang lugas (lugu, tapi dengan bahasa yang lebih keren dikit), simpel, dan realistis.

Secara lebih mendalam, proposisi tadi, salah satunya memiliki pesan: “Janganlah kamu merancang sesuatu hanya untuk menunjukkan kepandaianmu merancang, tapi ciptakanlah sesuatu yang dibutuhkan orang”. Jika kita merancang apa yang bisa kita rancang, tentu saja kita akan bisa membuat bermacam-macam benda yang aneh-aneh, yang sangat sophisticated, yang mebuat orang terkagum-kagum, dan mungkin menganggap  perancangnya gila. Intinya adalah bahwa semua engineer mestinya memang bisa membuat sesuatu yang sangat canggih, karena memang selama kuliah diajari yang canggih-canggih.  Tapi, itu semua tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat manusia, jika yang dia hasilkan itu tidak dibutuhkan orang. Nah, cara yang paling obyektif untuk menilai apakah suatu karya itu bermanfat atau tidak buat orang lain adalah dengan cara menjualnya, kalau laku berarti bermaanfaat, kalau tidak laku berarti tidak bermanfaat.  Setujukah Anda?

 
1 Comment

Posted by on July 17, 2009 in Filsafat

 

Tags: