RSS

Si Buta dari Swedia

screen-reder

HM: “Saya sudah mencoba mebuat diagram blok menggunakan ASCII art, tapi setelah diposting di message board ternyata bentuknya menjadi kacau, maaf.”

PB: “Santai saja, gak masalah, sebenarnya memang saya tidak akan pernah bisa melihat visualisasinya.  Saya buta total, tapi jangan khawatir, saya  bisa membaca source code yang kamu buat menggunakan screen reader tanpa masalah.”

HM: “Oh ya sudah, untungnya kamu gak bisa melihat ASCII art kacau yang saya buat. Saya tetap khawatir, tapi saya percaya semuanya akan baik-baik saja karena Anda sudah terbukti bisa menjadi seorang programmer C++.”

Begitulah kira-kira kutipan rekaman pembicaraanku dengan salah satu klienku dulu, ketika saya masih bekerja sebagai programmer lepas. Saya begitu takjub, ketika menjumpai seorang yang buta total membutuhkan solusi pemrograman untuk proyek software yang sedang dia garap:  VOCODER.

Dia adalah seorang programmer dengan suara emas, juga dengan pendengaran sebening permata, barangkali itu yg bisa diumpamakan. Dia adalah seorang artist, yang berkarya menggunakan suaranya. Dia bisa menirukan bermacam-macam karakter suara mulai dari suara Donald Bebek sampai suara bebek sungguhan.

Dia mendapati masalah ketika dia bekerja menggunakan vocoder, di mana dia mempunya dua sumber suara, satu suara instrument musik, dan lainnya suara orang yang berbicara. Dengan vocoder, dua suara tadi diproses untuk menghasilkan instrument musik yang berbicara mengucapkan kata-kata, tetapi tetap dengan nada dan warna suara instrument musik tadi. Masalahnya adalah suara yang dihasilkan dari bermaca-macam software vocoder yang dia punya mempunyai karakter seperti robot, tidak benar-benar jernih seperti suara yang keluar dari vocoder analog. Sebagai programmer, dia sudah bisa membaca file audio, sampel demi sampel suara bisa dia manipulasi, entah  dengan dikali, ditambah, atau dibagi. Sayang sekali, ternyata membuat sebuah sebuah vocoder, berada diluar pengetahuannya. Begitulah ceritanya, hingga akhirnya Si Buta bertemu dengan Hamuro, untuk mendapatkan pelayanannya. Apakah  Anda punya pengalaman bertemu orang-orang  hebat yang  ternyata penyandang cacat?

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on July 19, 2009 in Dunia Kerja

 

Tags:

Pensiun Dini

Dua tahun yang lalu saya berangkat ke Jakarta dengan penuh harapan, bahwa saya akan menjadi engineer profesional, dan dalam waktu maksimal 5 tahun saya akan pulang dengan membawa pengalaman segudang sebagai engineer, berharap bisa menjadi konsultan lepas.  Intinya waktu itu saya pengin pensiun dini, sebelum umur 40 tahun.

resignHarapan tinggal harapan, ternyata satu tahun yang lalu saya sudah bisa meninggalkan Jakarta, tepanya karena saya mengundurkan diri dari posisi saya sebagai karyawan tetap dari  sebuah perusahaan telekomunikasi. Harapan untuk mengembangkan karir sebagai engineer profesional pun pupus sudah. Meski begitu saya tidak berkecil hati, karena harapan saya yang lebih besar sudah tercapai: pensiun dini, bahkan sebelum usia 30 tahun.

Sebenarnya sebelum berangkat ke Jakarta dulu saya sudah bekerja secara lepas, freelance. Ketika pamit mengndurkan diri dari perusahaan, saya bilang kalau saya mau menekuni profesi lama saya sebagai programmer dan perancang perangkat keras (elektronik), tapi sebenarnya itu hanya alasan saja. Sebenarnya saya pengin berbisnis secara online, ada banyak ide waktu itu, meski saat itu sebenarnya belum tau bisnis online seperti apa nantinya yang akan memberikanku kesuksesan.  Akhirnya satu tahun yang lalu saya benar-benar pensiun. Tidak hanya mengundurkan diri sebagai karyawan, tapi juga saat itu saya mengundurkan dari profesi programmer, yang dibuktikan dengan mundurnya saya dari lelang pengerjaan proyek perancangan hardware dan software yang saya ikuti melalui broker proyek tempat saya biasa mendapat proyek lepas.

Akhirnya saya anggap bahwa saya memang sudah benar-benar pensiun, meski sebenarnya hanya pensiun dari pekerjaan-pekerjaan  lama. Apakah anda juga mempunyai obsesi untuk pensiun dari pekerjaan anda sekarang dan memulai sesuatu yang baru? Atau Anda sudah pensiun dan ingin berbagi pengalaman Anda?

 
3 Comments

Posted by on July 18, 2009 in Dunia Kerja

 

Tags:

Prinsip Dasar Perancangan: Sebuah Pengantar Filsafat Keteknikan dalam Dunia Kapitalis

dollar

Sebagai pengantar, saya kasih tahu dulu kalo inti dari  filsafat teknik, filosofi dari jalan hidup yang diambil oleh para teknisi, atau  engineer dalam istilah kerennya (biar tidak dikatakan lulusan STM), adalah bagaimana memanfaatkan segala akal budi yang kita miliki untuk menciptakan sesuatu, memperlakukan segala sesuatu, atau merekayasa (cara jawane ngakali) segala sesuatu untuk membuat hidup orang lebih mudah.  Dengan hidup yang lebih mudah mestinya manusia bisa lebih bahagia karena segala tujuan hidupnya bisa dia raih dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih optimal.

Nah cukup itu saja pengantarnya, selanjutnya mari kita masuk pada materi diskusi kita kali ini. Ketika kuliah perancangan instrumentasi medik, saya ingat betul wejangan dari guru besar Sunarno (kok  kedengarannya istilah jadul guru besar kayaknya lebih keren dari profesor ya),  tentang prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dalam merancang sesuatu, mungkin ini tidak ada di dalam textbook manapun, tapi ini adalah ilmu yang langsung diturunkan  dari sang guru kepada muridnya. Salah satu dari prinsip tersebut adalah:

Jangan merancang apa yang kamu bisa, tapi rancanglah apa yang bisa kamu jual.

Sepintas, pernyataan di atas tadi bernuansa materialis, kapitalis, yang intinya adalah ujung-ujungnya duit.  Namun, jika kita kaji lebih dalam, sebenarnya proposisi tersebut adalah pernyataan yang lugas (lugu, tapi dengan bahasa yang lebih keren dikit), simpel, dan realistis.

Secara lebih mendalam, proposisi tadi, salah satunya memiliki pesan: “Janganlah kamu merancang sesuatu hanya untuk menunjukkan kepandaianmu merancang, tapi ciptakanlah sesuatu yang dibutuhkan orang”. Jika kita merancang apa yang bisa kita rancang, tentu saja kita akan bisa membuat bermacam-macam benda yang aneh-aneh, yang sangat sophisticated, yang mebuat orang terkagum-kagum, dan mungkin menganggap  perancangnya gila. Intinya adalah bahwa semua engineer mestinya memang bisa membuat sesuatu yang sangat canggih, karena memang selama kuliah diajari yang canggih-canggih.  Tapi, itu semua tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat manusia, jika yang dia hasilkan itu tidak dibutuhkan orang. Nah, cara yang paling obyektif untuk menilai apakah suatu karya itu bermanfat atau tidak buat orang lain adalah dengan cara menjualnya, kalau laku berarti bermaanfaat, kalau tidak laku berarti tidak bermanfaat.  Setujukah Anda?

 
1 Comment

Posted by on July 17, 2009 in Filsafat

 

Tags:

Hello world!

Halo Duniaaaa…  Akhirnya saya punya blog juga. Sebenarnya sudah lama punya website, tapi sepertinya formatnya bukan blog beneran. Nah yang ini mestinya akan jadi blog yang benar-benar blog. Semoga rajin menulis nantinya. Salam sukses selalu buat siapa saja yang membaca tulisanku ini.

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2009 in Uncategorized